Selasa, 03 Mei 2011

11 Teknik Mengasah Otak

JAKARTA, KOMPAS.com — Para ilmuwan dari University of California, Berkeley, AS, pernah meneliti otak tikus. Mereka menemukan, otak tikus tumbuh sebesar 4 persen saat mereka dipaksa menjalankan tugas mental setiap hari, misalnya mencari jalan keluar dari lorong yang berliku, memanjat tangga, dan bersosialisasi dengan tikus lain.

Nah, otak tikus saja bisa dilatih untuk tumbuh, apalagi otak manusia. Makin dilatih, otak kita pasti kian tajam. Kehilangan daya ingat dalam jumlah tertentu pada usia berapa pun adalah wajar, sama seperti terjadinya perubahan pada organ tubuh lain. Yang penting, jangan malas untuk rajin melatih otak kita agar daya ingat tetap kuat sepanjang masa.

Ini caranya:
1. Latih kemampuan mengamati. Perhatikan lingkungan sekitar. Rekam dalam pikiran apa yang Anda lihat, mulai dari yang paling sederhana dan diteruskan dengan observasi yang lebih rumit.

2. Asah indra. Bisa dilatih dengan membedakan rasa makanan yang disukai dan yang tidak. Menyadari bau dan aroma di sekitar atau bunyi-bunyian yang ada di jalan atau mungkin rasa panas atau dingin udara di sekitar Anda.

3. Hafalkan nama teman-teman dan pasangkan nomor teleponnya. Ada berapa yang bisa diingat? Latih supaya bisa mengingat lebih banyak.

4. Pelajari sesuatu yang baru. Banyak membaca dan berkenalan dengan hal-hal lain yang mungkin bukan bidang Anda, bisa bahasa asing, pengetahuan tentang komputer, dan lain-lain.

5. Gunakan tangan supaya mengikuti petunjuk otak. Misalnya bermain gitar, mengetik tanpa melihat tuts, mengerjakan prakarya dari kayu, atau berlatih menulis halus.

6. Tekuni hobi. Gunakan kesempatan untuk mengembangkan hobi Anda.

7. Pelajari dan hafalkan tanggal-tanggal penting, menyangkut anggota keluarga, teman, atau perayaan tertentu.

8. Hafalkan sesuatu yang Anda sukai. Bisa jadi itu puisi, lagu, kalimat dari sebuah buku atau kata-kata seseorang. Sebisa mungkin juga usahakan agar kalimat yang digunakan adalah bahasa asing.

9. Latihan menghafal urutan angka berderet panjang, misalnya 32145687390282930498. Ini adalah bentuk latihan memperbaiki daya ingat jangka pendek. Lakukan dengan mengelompokkan atau memecah bilangan itu menjadi beberapa bagian, misalnya 3214568 kemudian 7390282 dan terakhir 930498.

10. Ingat perjalanan pribadi. Apa yang sedang Anda kerjakan satu jam lalu, minggu lalu pada hari Rabu pukul 10.00, misalnya. Dengan siapa, di mana, dan seterusnya.

11. Ingat dan teliti ulang pengeluaran harian. Apa yang Anda beli kemarin? Berapa uang yang ada dalam dompet Anda sekarang? Kapan Anda terakhir mengambil uang tunai, dan seterusnya.

Latihan-latihan ini akan memungkinkan sel otak tetap aktif dan jaringan penghubung antarsel otak semakin rapat. Kegiatan mental yang menantang meningkatkan jumlah sirkuit aktif atau sinapsis dalam otak. Semakin banyak sirkuit, semakin banyak asosiasi, makin besar pula kemampuan mengingat

Seni Pengambilan Keputusan


JAKARTA, KOMPAS.com — Mempertimbangkan suatu masalah dari sisi pro dan kontra, memikirkan setiap alasan, dan mencari titik temu selama tiga atau empat hari untuk mengambil keputusan merupakan kebiasaan Benjamin Franklin yang disebutnya algebra moral. Ia senang dengan kebiasaan itu karena dapat menilai dengan lebih baik dan lebih bertanggung jawab.

Benjamin Franklin adalah sosok manusia yang sangat efektif dalam berbagai fungsi, yakni bisnis, militer, politik, ilmu pengetahuan, dan diplomasi. Pada zamannya (abad XVIII), ia seorang perintis di berbagai bidang, yakni perpustakaan keliling, pemadam kebakaran, almanak, Akademi Pennsylvania (sekarang Universitas Pennsylvannia), American Philosophical Society, hingga mengetuai penulisan undang-undang di Amerika Serikat. Semakin banyak fungsi atau peran seseorang, semakin banyak ia terlibat pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.

Hal yang perlu dicatat dari pribadi Benjamin dalam pengambilan keputusan adalah bahwa ia berhasil memilih yang tepat dan bijaksana dalam berbagai hal hingga membuahkan keberhasilan. Ia juga meninggalkan kesan menyenangkan bagi banyak orang.

Ia adalah anggota masyarakat yang sangat dikagumi banyak orang sejak masih sangat muda. Sebagai gambaran, pada usia 30 tahun ia telah terpilih sebagai warga teladan di Pennsylvania.

Bila menengok bagaimana Benjamin dalam mengambil keputusan, mungkin kita tertawa, mengapa ia butuh waktu sampai tiga atau empat hari? Masih relevankah dengan situasi sekarang?

Bila menertawakan hal itu, berarti ada juga yang dapat ditertawakan dan dipertanyakan dari diri kita. Masih bersediakah kita mempertimbangkan apa saja yang keputusannya ada di tangan kita dengan lebih bijaksana, tanpa tergesa-gesa?

Ragam masalah
Sebagai manusia dewasa, setiap hari kita dihadapkan pada situasi untuk mengambil keputusan. Mengambil keputusan menu makanan keluarga sehari-hari tentu saja tidak perlu sampai berhari-hari.

Namun, untuk mengambil keputusan mengenai nasib seseorang atau sesuatu yang penting untuk orang banyak, baik di dalam keluarga (memutuskan pembelian kendaraan, memilih pasangan, pekerjaan, atau sekolah, memecahkan masalah psikologis anak) maupun menyangkut orang lain, seperti dalam perekrutan karyawan, menyusun peraturan, menyusun program, dan lain-lain, tentu saja perlu pertimbangan matang.

Sebagai manusia dewasa, kita sering kali kelewat percaya diri (over confidence), merasa telah matang dan mengerti banyak hal, sehingga cepat yakin dengan keputusan kita sendiri. Terlebih efektivitas manusia masa kini sering kali diukur hanya dengan kecepatannya memecahkan masalah dan mengambil keputusan.

Lebih fatal lagi, ada yang menemukan kenyataan bahwa setiap keputusan yang diambilnya selalu berbuah uang sebagai upah sehingga semakin banyak keputusan yang diambil, semakin banyak uang yang mengalir ke kantong. Hal-hal semacam ini akhirnya membuahkan ketergesaan dalam memecahkan berbagai masalah dan mengambil keputusan.

Ketergesaan hanya akan melahirkan keputusan yang prematur. Ibarat seorang ibu yang melahirkan anak prematur, secara fisik ia cepat merasa ringan, tetapi akhirnya menanggung beban lain, yakni kualitas kehidupan yang berisiko kelemahan fisik dan mental pada bayi yang dilahirkan. Demikian pula pengambilan keputusan yang prematur, menghasilkan kualitas keputusan yang merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.

Utang luar negeri Indonesia merupakan salah satu contoh besar betapa kita harus menanggung beban berat dalam jangka panjang karena keputusan berutang oleh pemerintah masa lalu. Padahal, utang itu semata-mata demi mengatasi persoalan ekonomi jangka pendek.

Di tempat kerja, mungkin jajaran pimpinan sebuah organisasi memutuskan menolak lamaran seseorang hanya karena faktor usia atau jenis kelamin. Namun, akhirnya timbul penyesalan karena lima tahun kemudian nama pelamar itu muncul di media massa karena karyanya yang penting.

Kecenderungan kerja mental
Pada saat kita mengambil keputusan dengan tidak banyak pertimbangan, terdapat beberapa kecenderungan mental kita yang bekerja secara spontan tanpa disadari. Kecenderungan tersebut ada yang positif, positif-negatif, dan ada pula yang negatif. Semuanya terbentuk karena pembiasaan sehingga muncul persoalan dalam hal ini, yaitu sejauh mana kita membiasakan kecenderungan yang positif sehingga tidak didominasi oleh hal yang negatif.

* Positif
Intuisi merupakan salah satu hal yang positif. Intuisi adalah kemampuan mengetahui atau mengenali secara cepat dan siap akan kemungkinan yang dapat terjadi dalam situasi-situasi tertentu.

Meski demikian, harus diakui bahwa pengambilan keputusan tidak cukup bila hanya mengandalkan intuisi. Akan lebih baik bila dikombinasikan dengan pendekatan analitis dan rasional. Intuisi sangat bermanfaat terutama dalam situasi pengambilan keputusan yang berisiko atau tidak menentu.

Kreativitas juga merupakan kecenderungan yang positif. Di dalam pengambilan keputusan, kreativitas berarti pengembangan respons-respons yang unik yang berkaitan dengan masalah dan kesempatan yang ada pada saat itu. Hal ini dapat berkembang bila seseorang mengembangkan intuisi.

* Positif-negatif
Judgmental heuristic merupakan suatu bentuk penilaian yang bersifat sederhana (mengambil jalan pintas) dalam pengambilan keputusan. Hal ini memiliki nilai positif karena mencerminkan kerja mental yang efisien. Bagaimanapun, penilaian heuristic ini dapat berakibat bias dalam penilaian sehingga menyesatkan dalam pengambilan keputusan.

Setidaknya terdapat dua jenis penilaian heuristic:
- Availability heuristic: menilai sesuatu hanya berdasarkan pengalaman atau informasi yang tersimpan dalam ingatan penilai. Misalnya, kita memutuskan membeli produk tertentu karena informasi teman yang berpengalaman positif dengan produk tersebut, padahal belum tentu cocok dengan diri kita.
- Representativeness heuristic: menilai sesuatu berdasarkan pada anggapan memiliki ciri yang sama dengan ciri-ciri kelompoknya. Misalnya, menerima seorang pelamar kerja hanya karena ia berasal dari almamater tertentu yang kita kenal baik. Masalahnya tidak semua output almamater tersebut dapat diandalkan kualitasnya.

* Negatif
Kecenderungan mental yang negatif ini mencakup kecenderungan seseorang untuk mempertahankan penilaian atau keputusan sebelumnya meskipun terdapat umpan-balik yang tidak mendukung penilaian tersebut. Kecenderungan ini disebut peningkatan komitmen (escalating commitment).

Pengambil keputusan yang baik tahu kapan ia harus mengubah keputusannya, yaitu apabila ia menyadari bahwa keputusan dan komitmen yang dijalankan saat ini ternyata tidak berhasil dengan baik.

Peningkatan komitmen negatif terjadi bila: (1) umpan balik negatif diabaikan, dianggap sebagai sesuatu yang sementara; (2) pengambil keputusan melindungi ego dengan tidak mengakui bahwa keputusannya salah; (3) menggunakan keputusan yang diambil hanya untuk memberikan kesan tertentu, misalnya ingin dilihat sebagai pimpinan yang tegas (sehingga mengambil keputusan secara otoriter).

Mengembangkan yang positif
Schermerhorn, Hunt & Osborn (1995) telah mengadopsi kiat mengembangkan pengambilan keputusan intuitif-analitis. Kiat tersebut meliputi tiga tahap: teknik rileksasi, latihan mental, dan teknik analitis. Ketiganya dapat dilakukan dalam waktu yang terpisah, tetapi ketika kita benar-benar dihadapkan pada suatu masalah yang harus diputuskan pemecahannya.

* Teknik rileksasi
- Singkirkan masalah yang ada untuk sementara waktu.
- Buat saat yang tenang untuk diri kita.
- Coba untuk membersihkan pikiran (keadaan no-mind).

* Latihan mental
- Gunakan imajinasi untuk menuntun cara berpikir kita.
- Biarkan ide-ide yang ada dalam pikiran mengalir tanpa dihalangi.
- Berlatih untuk menerima keadaan yang tidak pasti (ambiguitas) dan menerima pula kekurangmampuan kita untuk mengendalikan hal itu.

* Teknik analitis
- Diskusikan masalah-masalah yang ada dengan orang lain yang memiliki cara pandang berbeda dengan kita.
- Arahkan masalah yang ada pada saat kita berada pada kesiagaan penuh untuk menghadapinya.
- Ambil jeda yang cukup sebelum membuat keputusan akhir.
Seperti Benjamin Franklin, kita dapat mengambil keputusan secara efektif, bijaksana, dan dapat diterima oleh banyak pihak. Untuk itu, selain dengan kiat di atas, kita juga harus mempertimbangkan beberapa kriteria keputusan yang etis:

* Keputusan-keputusan diambil sedemikian rupa untuk memberikan kebaikan tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada banyak orang yang terkait.
* Tidak melanggar hak-hak orang lain (hak bicara, privacy).
* Mengenakan aturan yang tidak berat sebelah (adil)

Inilah Cara Mempertajam 8 Inteligensia


JAKARTA, KOMPAS.com — Prof Howard Gardner dari Harvard University menyebutkan bahwa inteligensia manusia meliputi inteligensia linguistik, logis matematis, visual spatial, kinestetik, musikal, naturalis, interpersonal, dan intrapersonal.

Kedelapan inteligensia ini bisa dan perlu dilatih sehingga otak kita bisa bekerja optimal. Semua jenis inteligensia ini bisa dioptimalkan dengan latihan banyak hal yang berbeda-beda. Pemanfaatan delapan inteligensia ini berarti menyeimbangkan kemampuan otak kanan dan kiri.

1. Inteligensia linguistik. Dipertajam dengan banyak membaca, melakukan permainan kata, misalnya pelesetan, berpuisi, berlatih diskusi, dan mengungkapkan sesuatu.

2. Inteligensia logis matematis. Dimaksimalkan dengan membuat rencana rinci anggaran belanja dan pendapatan pribadi, keluarga, atau perusahaan, menghitung setiap ada kesempatan atau apa pun latihan daya ingat yang terkait dengan bilangan.

3. Inteligensia visual spasial. Diasah dengan latihan mencorat-coret, menggambar, membaca peta, bermain jigsaw, membongkar benda dan memasang kembali, melakukan apresiasi seni, membuat diagram saat menjelaskan gagasan, membuat denah daerah atau rumah.

4. Inteligensia kinestetik. Ditempa dengan melakukan olah fisik secara teratur, membuat prakarya, berlatih menari atau berdansa, berlatih mengekspresikan diri dengan gerakan tangan atau bahasa tubuh lain.

5. Inteligensia musik. Dikembangkan dengan berlatih memainkan alat musik, menyanyi dengan suara tidak sumbang, mengingat irama lagu, bersiul atau menggumamkan irama lagu, mengingat bunyi tertentu.

6. Inteligensia naturalis. Dilatih dengan mencintai binatang, mengenal berbagai nama jenis pohon, bunga, tanaman, mempelajari cara kerja tubuh, kehidupan margasatwa, meminati isu-isu sosial, psikologi, biologi, ekologi, dan mempelajarinya.

7. Inteligensia interpersonal. Dikembangkan dengan bergaul, meminati olahraga tim seperti sepak bola, basket, bridge, membina persahabatan, berlatih berorganisasi, belajar bekerja sama dengan orang lain.

8. Inteligensia intrapersonal. Dilatih dengan mencari waktu untuk menyendiri, merefleksikan hidup, mengembangkan minat dan hobi, mencoba memahami diri, menetapkan visi dan misi pribadi, mengikuti berbagai latihan untuk mengembangkan diri.

Melatih otak tidak sekadar mengingat. Justru dengan berbagai macam kegiatan yang kita jalani setiap hari, otak akan semakin berkembang karena otak adalah pusat aktivitas dan hidup manusia. Aktiflah selalu, makin aktif makin encer otak Anda.